Assalamu’alaykum wr.wb.

buat agan-agan atau komandan2 yang bergerak di bidang ekonomi terutama yang sedang mengembangkan bisnisnya, produk dalam negeri.
perlu di baca ni tulisannya..

Tulisan ini juga ditujukan buat referensi Mata Kuliah Customer Relationship Management ane..

ADA APA DENGAN CINTA PRODUK DALAM NEGERI?

oleh Nova Chairil
“Journalist Days FE UI”

Produk Dalam Negeri

Aku cinta produk dalam negeri” adalah sebuah pernyataan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah kalimat yang tidak henti-hentinya dilontarkan pihak pemerintah dan produsen dalam negeri yang menyiratkan ajakan untuk seluruh masyarakat agar membeli dan memakai produk-produk yang diproduksi oleh produsen domestik. Hal ini dikarenakan pembelian produk dalam negeri yang memiliki dampak luar biasa terhadap perekonomian bangsa. Pembelian produk dalam negeri juga menumbuhkembangan jati diri bangsa Indonesia di mata internasional.

Saat-saat sekarang ini, pemerintah dan perusahaan domestik tengah berupaya agar masyarakat dapat membeli produk-produk dalam negeri. Salah satunya adalah dengan gencarnya iklan dan reklame yang dipasang di setiap media yang berisi pesan untuk selalu membeli dan memakai produk-produk dalam negeri sebagai cerminan rasa nasionalisme dan bela negara. Selain itu, pemerintah juga telah mengeluarkan instruksi tertulis dalam Inpres No.2 Th. 2009 Tentang Penggunaan Produk Dalam Negeri Dalam Pengadaan Barang dan Jasa. Hal ini juga telah dikuatkan dengan Inmenperdag yang mengharuskan setiap unsur pemerintah melakukan pengadaan barang dan jasa dengan produk dalam negeri.

Namun sayangnya, produk-produk dalam negeri tetap tidak diminati oleh masyarakat yang kali ini bertindak sebagai konsumen. Sebagian besar industri lokal tidak dapat bersaing di negeri sendiri dan tertatih-tatih untuk tetap bertahan. Hal ini didukung data pada Januari 2009 pertumbuhan industri 2009 diprediksi hanya akan mencapai 3,6—4,6%. Terlebih saat ini telah dibukanya ACFTA membuat produk lokal harus bersaing dengan barang-barang impor negara di ASEAN dan China. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada apa dengan cinta produk dalam negeri yang selalu dihimbau pemerintah dan pihak terkait?
Masyarakat memiliki stereotip tentang produk dalam negeri yang memiliki kualitas rendah dengan harga yang tidak kompetitif. Selain itu, dikatakan dalam Majalah Marketing edisi khusus yang terbit pada tanggal 16 Juli 2007, salah satu dari sepuluh karakteristik pembeli Indonesia adalah menyukai produk-produk impor. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produk dalam negeri belum dapat dilihat lebih baik di mata masyarakat ketimbang produk asing.

Lalu, bagaimana dengan iklan layanan masyarakat yang sering digembar-gemborkan pemerintah untuk membeli produk-produk lokal? Kegiatan penayangan iklan layanan masyarakat untuk membeli produk lokal yang telah dilakukan semenjak tahun 2008. Namun, hingga saat ini produk lokal masih belum berkembang dan hal ini masih belum cukup membuat masyarakat tertarik untuk menggunakan produk-produk dalam negeri. Dalam hal ini, konsumen yang rasional tidak akan memilih produk dalam negeri yang tidak memiliki daya saing hanya berdasarkan anjuran pemerintah. Anjuran menggunakan produk-produk dalam negeri memang bukan merupakan hal yang negatif. Namun, hal ini akan menjadi inefektif ketika pemerintah hanya bergerak sendirian. Sehingga dibutuhkan peran setiap elemen masyarakat dalam menjadikan produk-produk dalam negeri dapat diminati, salah satunya adalah pelaku bisnis lokal.
Christian Lovelock mengemukakan bahwa konsumen tidak akan membeli sebuah produk yang telah dipersepsikan memiliki benefit yang tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan konsumen. Sama halnya dengan produk-produk dalam negeri yang secara umum telah dipersepsikan negatif dengan konsumen lokal. Disinilah peran pelaku bisnis lokal dalam menawarkan produknya ke pasar. Pelaku bisnis lokal tersebut memiliki pemikiran bahwa konsumen tidak akan terpengaruh hanya pada anjuran pemerintah, dan konsumen akan berfikir secara rasional di dalam melakukan pembelian. Produsen lokal juga harus mengerti bahwa produknya harus menyesuaikan dengan apa yang diinginkan konsumen.

Produk-produk yang ditawarkan harus memiliki value yang sesuai atau lebih tinggi dengan biaya yang dikeluarkan konsumen. Apabila hal ini telah terjawab „ya‟, produk-produk tersebut kemudian harus memiliki competitive advantage, yaitu keunggulan produk tersebut yang tidak dimiliki produk kompetitor.
Selain itu, wajib hukumnya bagi pelaku bisnis lokal untuk mengenali siapa konsumen kita sebenarnya. Perlu dicatat bahwa harga tidak selamanya menjadi faktor tunggal sebuah produk akan diminati oleh sejumlah kalangan. Banyak faktor lain selain harga yang dapat menentukan sebuah produk dapat dibeli, seperti halnya kualitas, kemasan, merek, kesesuaian, dan masih banyak lagi. Sehingga, faktor tingginya biaya produksi yang menaikkan harga masih dapat dikendalikan dengan penyesuaian terhadap apa yang diinginkan konsumen. Salah satu contohnya yaitu dalam Majalah Marketing edisi spesial Agustus 2007, dikemukakan bahwa konsumen dalam negeri berorientasi pada konteks, bukan pada konten. Hal ini dapat menjadi kesempatan bagi produk lokal untuk meningkatkan kualitas packaging dari produk tersebut dalam menggaet pasar.

Pada akhirnya, produk-produk lokal yang telah menyesuaikan dengan karakteristik pembeli, dapat meningkatkan daya saing di pasar domestik. Sehingga seiring berjalannya waktu berdampak pada berubahnya pandangan awal negatif konsumen terhadap produk-produk dalam negeri ke arah positif. Pada saat hal tersebut terelalisasikan, peran pemerintah dalam menganjurkan pembelian produk-produk dalam negeri dapat berpengaruh signifikan, pasalnya pada saat itu juga produk-produk dalam negeri telah memiliki daya saing dengan produk-produk asing. Sehingga dalam jangka panjang terjadi sebuah kebiasaan baru bagi masyarakat Indonesia dalam memilih produk lokal (Indonesia-minded), dan segala manfaat yang diberikan dari adanya hal ini dapat terwujud.

Sumber
gimana gan? kasih komentar yak..
ane doain buat agan yg jadi pebisnis produk dalam negeri bisa lancar dan sukses. aminn

Go Produk Lokal, Go Produk Dalam Negeri, Go Produk Nasional, Go Indonesia!!